Minggu, 04 November 2012

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN FISIK DAN PSIKOMOTORIK PADA REMAJA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN

ENDAH GUSTIANTI HAMZAH
1201747
MATEMATIKA A 2012



1.        Perkembangan Fisik
Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan. Semua organ ini terbentuk pada periode pranatal (dalam kandungan). Berkaitan dengan perkembangan fisik ini Kuhlen dan Thompson mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu:
  1. Sistem syaraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi
  2. Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik;  
  3. Kelenjar endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan, yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis;    
  4. Struktur fisik/tubuh, yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi.
Awal dari perkembangan pribadi seseorang pada asasnya bersifat biologis (Allport, 1957). Dalam taraf-taraf perkembangan selanjutnya, normalitas dari konstitusi, struktur, dan kondisi jasmaniah seseorang akan mempengaruhi normalitas kepribadiannya, khususnya yang bertalian dengan masalah body-image, self-concept,, self-esteem dan rasa harga dirinya.
Pada masa remaja perkembangan fisik yang paling menonjol terdapat pada perkembangan, kekuatan, ketahanan, dan organ seksual. Karakteristik perkembangan fisik pada masa remaja ditandai dengan pertumbuhan berat dan tinggi badan yang cepat, pertumbuhan tanda-tanda seksual primer (kelenjar-kelenjar dan alat-alat kelamin) maupun tanda-tanda seksual sekunder (tumbuh payudara, haid, kumis, dan mimpi basah, dan lainnya), timbulnya hasrat seksual yang tinggi (masa pubertas).   
1.1. Karakteristik Perkembangan Fisik
Karakteristik perkembangan fisik masa remaja:
1. Perkembangan anatomis; adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang, indeks tinggi dan berat badan, proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara keseluruhan.
2. Perkembangan fisiologis; ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif, kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis, seperti konstraksi otot-otot, peredaran darah dan pernafasan, persyarafan, sekresi kelenjar dan pencernaan. Laju perkembangan berjalan secara berirama, pada masa bayi dan kanak-kanak perubahan fisik sangat pesat, pada usia sekolah menjadi lambat, mulai masa remaja terjadi amat mencolok. Kemudian, pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria, laju perkembangan menurun sangat lambat bahkan menjadi mapan.

1.2. Faktor yang memengaruhi perkembangan fisik
Faktor yang memengaruhi perkembangan fisik (motor skills) peserta didik, yaitu: 
1.    Keluarga
Meliputi faktor keturunan maupun faktor lingkungan.
2.    Gizi
Remaja yang memperoleh gizi yang cukup biasanya akan lebih tinggi tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai taraf remaja dibandingkan dengan mereka yang kurang mendapatkan asupan gizi.
3.    Gangguan Emosional
Remaja yang terlalu sering mengalami gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan, dan ini akan membawa akibat berkurangnya pembentukan hormon pertumbuhan kelenjar pituitari.
4.    Jenis Kelamin
Remaja laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat daripada remaja perempuan.
5.    Satatus Sosial Ekonomi
Remaja yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah cenderung lebih kecil daripada anak yang berasal dari keluarga yang status sosial-ekonominya tinggi.
6.    Kesehatan
Remaja yang sehat dan jarang sakit, biasanya akan memiliki tubuh yang lebih berat daripada anak yang sering sakit.
7.    Pengaruh Bentuk Tubuh
Bangun/ bentuk tubuh, apakah mesamorf, ektomorf, atau endomorf, akan mempengaruhi besar kecilnya tubuh anak.
8.    Pertumbuhan dan perkembangan sistem syaraf (nervous system)
Pertumbuhan syaraf dan perkembangan kemampuannya membuat intelegensi (kecerdasan) anak meningkat dan mendorong timbulnya pola-pola tingkah laku baru. Semakin baik perkembangan kemampuan sistem sistem syaraf seorang anak, akan semakin baik dan beraneka ragam pula pola-pola tingkah laku yang dimilikinya. Namun uniknya, berbeda dengan organ tubuh lainnya, organ sistem syaraf apabila rusak tak dapat diganti atau tumbuh lagi.
9.    Pertumbuhan otot-otot
Peningkatan tonus (tegangan otot) anak dapat menimbulkan perubahan dan peningkatan aneka ragam kemampuan dan kekuatan jasmaninya. Perubahan ini tampak sangat jelas pada anak yang sehat dari tahun ke tahun dengan semakin banyaknya keterlibatan anak tersebut dalam permainan yang bermacam-macam atau dalam membuat kerajinan tangan yang semakin meningkat kualitas dan kuantitasnya dari masa ke masa. Perlu dicatat bahwa dalam pengembangan keterampilan terutama dalam berkarya nyata seperti membuat mainan sendiri, melukis, dan seterusnya, peningkatan dan perluasan (intensifikasi dan ekstensifikasi) pendayagunaan otot-otot anak tadi bergantung pada kualitas pusat sistem syaraf dalam otaknya.
10.     Perkembangan dan perubahan fungsi kelanjar-kelenjar endokrin (endocrine glands)
Berubahnya fungsi kelenjar-kelenjar endokrin seperti adrenal (kelenjar endokrin yang meliputi bagian atas ginjal dan memroduksi bermacam-macam hormon termasuk hormon seks), dan kelenjar pituitary (kelenjar di bawah bagian otak yang memroduksi dan mengatur berbagai hormon termasuk hormon pengembang indung telur dan sperma), juga menimbulkan pola-pola baru tingkah laku anak ketika menginjak remaja. Perubahan fungsi kelenjar-kelenjar endokrin akan mengakibatkan berubahnya pola sikap dan tingkah laku seorang remaja terhadap lawan jenisnya. Perubahan ini dapat berupa seringnya melakukan kerja sama dalam belajar atau berolahraga, berubahnya gaya dandanan atau penampilan, dan lain lain perubahan pola perilaku yang bermaksud menarik perhatian lawan jenis. Dalam hal ini, orangtua dan guru seyogyanya bersikap antisipatif terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan-penyimpangan perilaku seksual yang tidak dikehendaki demi kelangsungan perkembangan para siswa remaja yang menjadi tanggung jawabnya.
11.     Perubahan struktur jasmani
Semakin meningkat usia anak akan semakin meningkat pula ukuran tinggi dan bobot serta proporsi (perbandingan bagian) tubuh pada umumnya. Perubahan jasmani ini akan banyak berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan dan kecakapan motor skills anak. Pengaruh perubahan fisik seorang siswa juga tampak pada sikap dan perilakunya terhadap orang lain, karena perubahan fisik itu sendiri merupakan konsep diri (self-concept) siswa tersebut. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa perkembangan fisik siswa lebih memiliki signifikasi daripada usia kronologisnya sendiri. Timbulnya kesadaran seorang siswa yang berbadan terlau besar dan tinggi atau terlalu kecil dan rendah jika dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya mungkin sekali akan memengaruhi pola sikap dan perilakunya baik ketika berada di dalam kelas maupun di luar kelas. Sikap dan perilaku yang berbeda ini bersumber dari positif atau negatifnya self-concept yang ia miliki.                                                                                                           
2.        Perkembangan psikomotorik

Perilaku motorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuromuscular system (persyaratan dan otot) dan fungsi psikis (kognitif, afektif dan konatit). Loree menyatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus di kuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau awal masa kanak-kanaknya ialah berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). Kedua jenis keterampilan psikomotorik ini merupakan basis bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks seperti yang kita kenal dengan sebutan bermain (playing) dan bekerja (working).
Dua prinsip perkembangan utama yang tampak dalam semua bentuk perilaku psikomotorik ialah (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks, dan (2) dari yang kasar dan global (grass bodily movements) kepada yang harus dan spesifik tetapi terkoordinasikan (finely coordinated movements). 
2.1.   Karakteristik perkembangan psikomotorik
Karakteristik perkembangan psikomotorik ditandai dengan berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih abstrak, keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan, penilaian moral menjadi semakin kognitif, dan penilaian moral menjadi kurang egoistik.
2.2.   Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan psikomotorik

Faktor faktor yang menghambat dan mendukung peningkatan potensi kemampuan psikomotorik peserta didik adalah sebagai berikut.
1.    Faktor pola asuh orang tua
Pola asuh ornag tua adalah sebuah faktor penghambat psikomotorik peserta didik. Disaat pola asuh orang tua terlalu otoriter ataupun terlalu memaksa, karena karakteristik seorang anak sangat sensitif ditambah setiap anak tidak dapat secara langsung dioptimalkan secara cepat denagan kata lain memaksakan kemampuan danagan waktu yang singkat.
Apabila orangtua memaksakan peningkatan potensi perkembangan psikomorik anak kebanyakan malah menyababkan gangguan mental terhadap anak tersebut biasanya anak akan cenderung merasa canggung, merasa serba salah tidak percaya pada diri sendiri dan merasa tertekan.
2.    Gen dari orang tua
Gen dari orang tua juga bisa menjadi penghambat dalam upaya meningkatkan kemampuan psikomotorik anak, apabila orang tua mempunyai pembawaan sifat gen yang unggul maka dalam mengembangkan potensi kemempuan psikomotorik anak pun juga akan lancar., begitupun sebaliknya.
3.    Pengaruh lingkungan
Pengaruh lingkungan ini bias berasal dari keluarga, sekolah maupun lingkungan bermain.
4.    Interior ruang belajar
Preiser dalam Laurens (2004:1) menjelaskan bahwa kebiasaan mental dan sikap perilaku seseorang dipengaruhi oleh lingkungan fisiknya. Adapun lingkungan fisik tersebut antara lain berupa kondisi fisik hunian (bangunan), ruang (interior) beserta segala perabotnya, dan sebagainya.
      
3.    Implikasi Perkembangan Psikomotor dan Fisik Terhadap Pendidikan

Pemahaman terhadap pekembangan fisik dan psikomotorik dapat memberikan manfaat yang besar dalam pendidikan. Implikasinya terhadap pendidikan berkaitan erat dengan perencanaan pendidikan. Pemahaman terhadap perkembangan ini, berguna untuk para pendidik dalam menyusun materi pendidikian yang sesuai dengan perkembangan peserta didiknya. Dengan begitu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih efektif dan efisien dapat berjalan dengan tepat.
Implikasi kedua perkembangan tersebut terhadap pendidikan adalah membimbing remaja dalam tugas perkembangan masa remaja yaitu:
a.       Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.
b.      Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita.
c.       Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.
d.      Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.
e.        Memilih dan mempersiapkan karier. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.
f.       Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara.
g.      Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku.

Analisis
            Perubahan yang paling dirasakan oleh remaja pertama kali adalah perubahan fisik. Terjadi pubertas yaitu proses perubahan yang bertahap dalam internal dan eksternal tubuh anak-anak menjadi dewasa.
            Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting, namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Begitu juga, perkembangan fisik yang tidak proporsional.
Pada usia remaja kegiatan motorik sudah tertuju kepada persiapan-persiapan kerja, keterampilan-keterampilan menulis, mengetik, menjahit dan sebagainya sangat tepat saatnya mulai dikembangkan.
Perubahan yang terjadi pada fisik maupun psikologisnya menuntut anak untuk dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan dan tantangan hidup yang ada dihadapannya. Dalam perkembangan fisik dan psikomotorik diharapkan para orang tua dan pendidik dapat mengawasi dan mengotrol anak-anaknya supaya tidak terjadi perilaku-perilaku menyimpang.
Referensi
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Batusangkar :PT Remaja Rosdakarya
http://www.duniapsikologi.com
http://id.shvoong.com
Syamsuddin Makmun, Abin. 2007. Psikologi Kependidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya
Yusuf L.N., Syamsu dan Nani M. Sugandhi. 2011. Perkembangan Peserta Didik. Bandung : PT. Raja Grafindo Persada

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar